memandang inventivitas Anak Bangsa di segi Teknologi sistem pakaian

SUARAREPUBLIK.COM – memandang inventivitas Anak Bangsa di segi Teknologi sistem pakaian merupakan salah satu bidang favorit yang diperlombakan dalam Lomba Kompetensi Mahasiswa Vokasi (LKS). Sejak tahun 2006, Indonesia bahkan berhasil meraih medali emas untuk Fashion Technology di ajang keterampilan internasional yaitu World Skills Competition (WSC). Juri LKS 2022, Nathanael Suryadi mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi anak Indonesia di bidang Fashion Technology. Ia juga mengakui bahwa keterampilan siswa SMK yang dilihatnya melalui LKS dari tahun ke tahun sangat berkembang dengan berbagai kreativitasnya masing-masing.

“Alhamdulillah banyak sekali anak-anak yang bisa melakukannya. Ini menjadi bukti bahwa perkembangan sistem pendidikan di bidang fashion di seluruh SMK di Indonesia mulai membuahkan hasil. Dan menurut saya apa yang didapat anak-anak ini sudah melampaui harapan kami biasa saja. Jadi saya sangat berterima kasih kepada guru-guru dari seluruh Indonesia. Mereka bekerja keras untuk perjuangan di LKS,” kata Natanael di Jogja Expo Center.

Menurutnya, acara LKS berhasil menunjukkan kemajuan luar biasa siswa SMK di bidang fashion. Ia yakin siswa SMK yang menekuni bidang fashion akan meramaikan dunia fashion nasional ke depannya. “Saya yakin anak-anak ini akan menjadi pemain dalam bisnis atau pengembangan bisnis di industri fashion di tanah air,” ujarnya.

Pada LKS 2019 bidang kompetisi Fashion Technology, peserta diberikan tugas untuk menyelesaikan lima modul dengan tema busana muslim untuk bekerja di kantor. Modul pertama membuat pola, modul kedua membuat desain, dan modul ketiga membuat draping untuk membuat hijab. Draping adalah istilah dalam dunia fashion yang merupakan teknik dasar pembuatan pola yang dilakukan langsung pada sebuah dressform atau manekin. Pengertian lain dari draping adalah teknik merangkai kain tanpa menggunakan teknik pemotongan pola dan teknik menjahit. Kemudian modul keempat membuat sketsa/menggambar, dan modul kelima memberikan dekorasi pada desain yang dibuat pada modul pertama dan kedua.

Nathanael mengatakan, dalam memberikan penilaian, juri melihat kemampuan peserta dalam membaca tren busana muslim dan bagaimana mereka bekerja atau mempresentasikannya dalam desain yang sesuai dengan kreativitas dan teknik yang dikuasai oleh para peserta. “Kecermatan mereka dalam melakukan pengukuran dan pembuatan pola juga kami nilai. Karena dengan berbagai modifikasi dan variasi pakaian yang mereka buat, tentunya membutuhkan teknik tertentu. Oleh karena itu, anak-anak ini dalam membuat pola harus mengerjakan ukuran yang diambil dari patung, kemudian mereka bekerja dengan berbagai jenis mesin yang sudah kami siapkan,” ujarnya.

Dikatakannya, di bidang kompetisi Fashion Technology, peserta bisa membuat gaun, rok, atau manset khusus untuk busana muslim. Oleh karena itu, ketepatan dalam pengerjaan sesuai dengan teknik dan keragaman busana yang dihasilkan dinilai oleh juri. “Jadi kalau mereka membuat tiga macam, misalnya ada rok, atasan, dan blazer, nanti kita lihat keragamannya seperti apa dalam proses desainnya. Bisa kreatif atau monoton? Jadi kreativitas mereka benar-benar digali,” kata Natanael.suararepublik.com

Untuk mengerjakan semua modul dan tugas, peserta diberikan total waktu 18 jam yang terbagi dalam tiga hari kompetisi, yaitu dari tanggal 9 sd 11 JANUARI 2022. Untuk proyek uji coba, Modul 1 dan 2 diberikan waktu 14 jam, mulai dari desain, pengukuran, hingga membuat pola. , sampai menjadi gaun. Pada Modul 3, Anda diberikan waktu 30 menit karena hanya hijab draping. Untuk modul desain ilustrasi atau sketsa/gambar diberikan waktu 1,5 jam, dan 2 jam untuk dekorasi.

Standar penilaian dalam LKS mengikuti standar kompetisi internasional yaitu World Skills Competition (WSC). Tidak hanya penilaian, soal standar juga dibuat sesuai standar WSC. “Jadi kami selalu mengikuti proyek uji WSC dan standar penilaian mengikuti WSC,” kata Nathanael yang juga menjadi juri di WSC sejak 2005.

Para juri di LKS ini berasal dari berbagai latar belakang. Di bidang kompetisi Fashion Technology, ada lima orang yang menjadi juri. Selain Nathanael, ada dua orang dari perwakilan industri dan dua orang dengan latar belakang akademis atau pendidikan. “Jadi cara pandang masing-masing juri berpengaruh pada bagaimana melengkapi nilai-nilai yang diberikan oleh para juri,” ujarnya.

Akhir Kata

Itulah Artikel “memandang inventivitas Anak Bangsa di segi Teknologi sistem pakaian“, Semoga bisa menambah wawasan kalian yah.
(‘TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA DAN JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI..’)

Leave a Comment